[review film] It’s Wonderful Life

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mengikuti pemutaran perdana film It’s Wonderful Life. Sebuah film yang menceritakan perjuangan seorang ibu untuk menerima kenyataan bahwa anak satu-satunya menderita kelainan disleksia. Sebelum menonton film ini, saya selalu berfikir disleksia HANYA kelainan yang membuat penderitanya kesulitan untuk membaca akibat tertukarnya huruf-huruf dalam sebuah kalimat. Kalau kita pernah mendapatkan broadcast message mengenai kemampuan kita menterjemahkan kalimat dengan huruf yang saling tertukar, dulu saya berfikir ya itulah disleksia, sesuatu yang mereka hadapi selama ini.  Saya tidak pernah membayangkan kalau kelainan itu ternyata amat sangat menyulitkan bagi penderitanya. Bahwa huruf-huruf yang mereka lihat dari sebuah kalimat bertukar-tukar bahkan berjungkir balik sehingga menyulitkan mereka dalam membacanya. Karena bagaimana mereka bisa membaca seperti kita kalau ketika mereka mulai belajar mengenal huruf dan membaca saja susunan dan bentuk hurufnya sudah terbalik balik.

Dalam film ini sebenarnya lebih di ceritakan bagaimana lingkungan sekitar penderita harus bisa menerima kondisi mereka. Menceritakan perasaan seorang ibu yang bersikap ‘denial’ bahwa anaknya menderita kelainan disleksia sehingga mencoba segala jenis usaha untuk menyembuhkannya, mulai dari berganti-ganti psikolog anak, hingga menjelajah pedalaman Jawa hanya untuk mengobati kelainan tersebut secara tradisional dan supranatural. Atau bagaimana sikap seorang kakek yang menganggap kesuksesan itu berdasarkan pada nilai-nilai pelajaran. Kita disuguhi juga dengan betapa ‘orang pintar’ sudah sangat melekat dalam kehidupan kita, walau ternyata diagnosa dan pengobatan yang diberikan ternyata tidak sesuai.  Pada akhirnya yang bisa dilakukan oleh sang ibu hanyalah pasrah menerima kelainan tersebut dan menggali potensi lain dari sang anak yang justru tidak dimiliki orang pada umumnya.

Film ini cukup menghibur dan memberikan pembelajaran bagi saya, tentang apa itu disleksia, tentang bagaimana orangtua menerima keadaan anaknya (atau cucunya) yang tidak sesuai dengan harapan, dan belajar bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Film ini berdasarkan kepada buku dengan judul yang sama, namun kali ini saya memutuskan untuk menonton saja dulu filmnya baruwhatsapp-image-2016-11-03-at-09-30-16 mendalami lagi ceritanya dengan membaca bukunya. Pemutaran perdana film ini sendiri dihadiri oleh banyak kalangan baik artis maupun komunitas. Terlihat juga sosok ibu Miranda Gultom dengan tatanan rambutnya yang khas :D. Dan dari sekian kali saya mengikuti pemutaran perdana, baru kali ini saya mendapat goodie bag yang isinya banyak dan lumayan hihihi, it’s wonderful life.

Advertisements

Malaysia Trip 2016 – day 5 (KLIA2 – CGK)

Hari 5

Meski lokasi tidur kami berada di depan pintu keluar ruang kedatangan, namun tidak mengganggu tidur kami malam itu. Kami semua tertidur dengan nyenyak dan nyaman. Menjelang subuh kami bangun dan membersihkan diri serta bersiap-siap. Pesawat kami ke Jakarta terjadwal pukul 07.00 sedangkan pesawat Tante ke Surabaya terjadwal pukul 06.30. Sehingga kami bisa masuk ruang tunggu bersama-sama untuk kemudian berpisah di ruang boarding yang berbeda. Di KLIA 2 kami bertemu di KLIA 2 juga kami berpisah. Dengan membawa cerita masing-masing yang tentunya tak terlupakan sambil membuat janji akan tujuan selanjutnya. Vietnam maybe??? 🙂

 

Biaya yang dikeluarkan :

  • Roti dan air mineral (sarapan)    rm 10
  • Uber menuju rumah                        idr 95.000

 

TOTAL BIAYA YANG DIKELUARKAN

Tiket Jakarta – Kuala Lumpur – Penang – Langkawi – Kuala Lumpur – Jakarta    Idr.1.024.000

Akomodasi, transportasi, makan di Malaysia       RM 317,5

Transportasi dan makan di Jakarta                            IDR 305.000

  1. Sewa mobil Penang – KLEZCAR Bayan Lepas http://klezcar.com
  2. Home stay Penang – Georgetown Muslem Budget Homestay via booking.com
  3. Sewa mobil Langkawi – mylangkawideals.com
  4. Penginapan Langkawi – Baron Water Front Hotel via booking.com

Malaysia Trip 2016 – Day 4 (Penang – Kuala Lumpur)

Hari 4

Semalam sebelum tidur sih niatnya bangun pagi lalu melihat sunrise, tapi apa daya, kasur dan selimut sangat posesif sehingga setelah shalat subuh lanjut bercengkrama dengan mereka. Setelah mandi pagi tujuan pertama adalah sarapan. Tepat di samping penginapan terdapat warung-warung yang menjual berbagai macam makanan khas Melayu. Sarapan saya pagi ini ah tidak lain dan tidak bukan adalah Nasi Lemak hihihi.

Usai mengisi perut, kami check out dari hotel dan mengarahkan kendaraan ke daerah Pantai Cenang. Daerah Cenang lebih ramai dibandingkan daerah tempat kami menginap, mungkin mirip daerah kuta atau legian kalau di Bali. Kami mampir di duty free shop untuk sekedar melihat-lihat berbelanja. Terdapat berbagai barang dengan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan tempat lain. Yang banyak dijadikan oleh-oleh adalah cokelat atau wafer khas Malaysia. Saya juga menyempatkan membeli tempelan kulkas untuk menghiasi kulkas saya. Setelah puas  berbelanja, kami meneruskan perjalanan lagi untuk mengelilingi pulau Langkawi sambil menuju Bandara. Hanya butuh waktu 30 menit kami sudah sampai di Bandara, karena jadwal penerbangan yang masih lama, kami meneruskan perjalanan untuk memutari daerah sekitar bandara dan berakhir di sebuah tempat makan. Karena kami baru saja makan, jadi hanya ngemil cantik berupa rujak saja disana.

dsc_0796

tempatnya pindah, aktivitasnya sama, rumpis

Kami tiba di bandara sekitar pukul 12.00, meski Langkawi lebih sepi dibandingkan kote Penang, namun bandara Langkawi lebih besar dan lebih ramai oleh wisatawan dibandingkan bandara Penang. Keamanan pun lebih ketat karena di  bandara Langkawi kami harus mengeluarkan laptop dari tas untuk diperiksa. Sekitar pukul 14.30 kami tiba di Kuala Lumpur.

Rencana semula dari bandara kami akan menggunakan bis untuk menuju kota. Tapi untuk menghemat waktu dan tenaga akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan kereta cepat atau KLIA Express. Harganya memang jauh lebih mahal dibandingkan dengan bis, namun kami hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk bisa sampai di stasiun KL Sentral. Kami langsung mencari loker untuk menyimpan tas dan barang-barang kami. Di stasiun KL Sentral terdapat loker dengan berbagai ukuran yang bisa kita gunakan untuk menyimpan tas dan barang – barang sehingga kita tidak perlu membawa-bawa barang keliling kota.

Dari KL Sentral kita bisa menggunakan berbagai macam transportasi yang kita sukai untuk berkeliling. Tujuan pertama kami adalah Pasar Seni untuk membei oleh-oleh. Pasar Seni adalah sebuah bangunan 3 lantai yang berisi toko-toko yang menjual berbagai macam barang. Mulai dari makanan kering khas Malaysia, baju-baju, oleh-oleh hingga ke lukisan dan barang seni. Untuk efisiensi waktu kami berpencar dan berjanji akan bertemu di sebuah tempat makan di samping bangunan. Tempat makan khas Melayu itu selalu saya kunjungi setiap kali saya ke Kuala Lumpur, karena menunya yang beragam dan enaakkk. Terutama es teh tariknya, slurppp sangat segar diminum di siang hari. Saking sukanya saya pernah membungkus untuk saya minum di bandara sambil menunggu keberangkatan.

whatsapp-image-2016-10-08-at-14-16-02

Menu favorit saya – nasi lemak dan es teh tarik       (sumber : google)

Membutuhkan waktu 2 jam untuk bisa berkumpul kembali, dengan membawa tentengan masing-masing (kecuali saya) kami naik MRT menuju KLCC. Stasiun KLCC menyatu dengan Suria Mall, itulah tujuan kami, tepatnya tujuan Tante Saya. Beliau penasaran dengan sepatu merk Vinci (sebenarnya ini dikarenakan bisikan dari ibu saya mengenai belum ke KL kalau belum beli Vinci *sigh*). Walau saya sudah beberapa kali mengatakan bahwa di Surabaya juga sudah ada outletnya tapi kalau tidak beli di tempatnya katanya tidak sah. Sambil menunggu tante saya memilah dan memilih sepatu, kami menunggu di taman yang berada di belakang Mall. Salah satu tempat favorit saya jika berada di sana. Taman yang luas dengan kolam yang besar pas di pintu keluar mall. Saat ini ternyata ada pertunjukan air mancur menari di kolam tersebut setiap pukul 20.00. disitulah kami bersantai dan mengambil beberapa foto sambil menikmati air mancur yang menari mengikuti lagu yang dimainka. Setelah puas, kami menuju ke depan mall, untuk mengambil foto dengan latar belakang twin tower Petronas. Saat ini untuk bisa naik ke jembatan penghubung antara tower harus membayar sebesar rm 85!. Bersyukur saya pernah merasakan naik ke atas jembatan ketika belum harus membayar. Kalau saat ini kok rasanya sayang ya membayar sebesar itu hanya untuk naik ke atas jembatan.

Setelah puas mengambil foto, kami kembali naik MRT menuju Stasiun KL Sentral untuk mengambil tas dan membeli roti sekedar pengisi perut. Karena tidak diburu waktu, kami menuju airport menggunakan bis saja. Walau harganya murah namun bis tetap nyaman, dengan posisi kursi 2-2, reclining seat dan AC. Bis melewati sebagian kota dan setelah masuk jalan tol perlahan Petronas Twin Tower menghilang dari pandangan. Perjalanan menuju Airport sekitar 80 menit. Setibanya di KLIA 2, kami kembali mencari tempat untuk tidur. Tanpa sengaja kami menemukan sebuah tempat yang memang disiapkan untuk penumpang beristirahat, kami pun segera mengatur posisi yang nyaman. Menggelar matras dan kain serta menyiapkan tas untuk dijadikan alas kepala. Sebelum tidur kami juga menyempatkan untuk membersihkan diri dan berganti baju di kamar mandi.

Biaya yang dikeluarkan :

  • Nasi lemak (sarapan)                   rm   1,5
  • Es kopi                                              rm   1
  • Tiket KLIA Express                        rm 55
  • Sewa Loker                                      rm 20 dibagi 7
  • Tiket MRT (3x)                                rm 10
  • Bis KL Sentral – KLIA                   rm 11
  • Makan siang                                    rm 10
  • Roti dan Cha Time                         rm 15

Malaysia Trip 2016 – Day 3 (Penang – Langkawi)

Hari 3

Usai shalat subuh kami langsung mandi dan bersiap-siap untuk check out. Sekitar pukul 9 pagi kami sudah keluar dari penginapan karena masih harus mengembalikan mobil terlebih dahulu ke kantor penyewaan yang berada di tempat parkir supermarket Giant. Terdapat sebuah restoran 24 jam di seberang Giant, dan disanalah kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Menu makan pagi saya, ah tetap nasi lemak dengan ayam goreng merah yang enak itu  :P. Petugas penyewaan mobil mengantarkan kami kembali ke airport yang berjarak hanya 10 menit. Kembali sambil menunggu keberangkatan kami mojok di pojok internet. Penerbangan Penang ke Langkawi hanya menempuh waktu sekitar 30 menit, lebih lama proses sebelum take off nya dibanding terbangnya hehehe.

Setiba di Langkawi Airport kami segera menunju counter penyewaan mobil yang telah kami booking sebelumnya. Setelah mengambil peta dan brosur brosur yang diperlukan, kami segera menuju lokasi tujuan pertama, yaitu Langkawi Geopark. Tak lupa sebelumnya kami mengisi petrol terlebih dahulu. Perjalanan dari Bandara menuju Langkawi Geopark menyusuri Selat Malaka, terlihat banyak kapal-kapal pesiar baik yang tengah berlayar maupun tengah bersandar.

Siang itu Langkawi Geopark cukup banyak pengunjung sehingga kami harus parkir agak jauh dari pintu masuk. Untuk memasuki area Langkawi Geopark tidak dipungut biaya, namun kalau ingin menikmati atraksi dan permainan harus membayar lagi sesuai dengan tarifnya masing-masing. Selain permainan dan atraksi di dalamnya juga terdapat toko-toko yang menjual berbagai souvenir dan danau buatan. Tujuan kami kemari adalah Langkawi Sky Bridge yang berada di puncak gunung Mat Chinchang.

Untuk menuju Langkawi Sky Bridge, kita harus menggunakan cable car, menaiki cable car itu juga memberikan sensasi tersendiri, karena melayang-layang di ketinggian selama sekitar 25 menit untuk menuju puncak gunung. Tapi pemandangannya memang luar biasa indahnya, asal jangan memandang tepat ke bawah kereta saja, karena akan membuat jantung berdebar dengan sangat cepat. Hutan lebat dibingkai dengan birunya laut menjadi pemandangan kami siang itu.

Terdapat sebuah stasiun di tengah perjalanan dimana pengunjung bisa mengambil gambar atau hanya sekedar menikmati pemandangan dari ketinggian. Stasiun terakhir berada di puncak gunung. Terdapat tempat makan, toko souvenir, deck untuk melihat pemandangan sejauh 360o, serta sebuah bis surat atau SKY POS, dimana kita bisa mengirimkan kartu pos secara gratis. Swami mencoba mengirimkan kartu pos ke alamat rumah kami, namun hingga kini belum tiba juga :D.

Untuk menuju Langkawi Sky Bridge bisa menggunakan trem atau disebut SkyGlide, atau dengan menyusuri hutan kecil sepanjang kurang lebih 700 m yang bisa di tempuh selama kurang lebih 30 menit. Langkawi Sky Bridge  dibangun pada tahun 2003-2004 itu dibangun di ketinggian 660 m di atas permukaan laut, membentang sepanjang 125 m, dimana sebagian nya terdiri atas lantai kaca, sehingga ketika saya berjalan di atasnya ada perasaan ngilu yang tak dapat diungkapkan. Dari atas jembatan itu kita bisa melihat pemandangan kota Langkawi dan birunya selat Malaka. Sayang cuacanya tidak terlalu cerah sehingga tidak bisa melihat Tarutao yang merupakan salah satu kepulauan di Thailand. Konstruksi jembatan terlihat kokoh dengan bentuk yang mengingatkan saya pada jembatan Pasupati Bandung. Puas menikmati Langkawi dari ketinggian, kami memutuskan untuk turun dan menuju tujuan selanjutnya, yaitu patung Elang.path_20160410084430732

Jalanan di Langkawi tidak serumit di Penang, jalannya lebar dan petunjuk setiap persimpangannya cukup jelas sehingga tanpa kesulitan yang berarti kami tiba di Dataran Lang tempat patung Elang ini bertahta. Ketika parkir, tujuan pertama kami adalah yaa mencari makan karena makan terakhir adalah sebelum kami terbang ke Langkawi tadi pagi. Di tempat parkir berjejer tempat makan dengan berbagai jenis makanan bahkan ada yang menjual bakso solo.

Dataran Lang dipenuhi pengunjung sore itu. Pemandangan matahari terbenam menjadi daya tarik pengunjung untuk berfoto disana. Sekedar duduk – duduk menikmati sore juga tidak salah.

Selepas magrib kami meneruskan perjalanan menuju tempat kami menginap yang hanya berjarak 5 menit dengan kendaraan, kalau jalan kaki mungkin sekitar 30 menit. Sekitar 200 m sebelum penginapan, terdapat Masjid Al Hana yang sangat artistic dengan kubah-kubah yang menyerupai Taj Mahal India. Kami menginap di De Baron Waterfront hotel, sebuah hotel kecil di kompleks pertokoan dengan lapangan parkir yang luas. Terdapat juga beberapa hotel lainnya di kompleks tersebut. Selain hotel terdapat juga toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Langkawi. Ketika kami iseng melihat deretan batik yang dijual ternyata  made in Pekalongan 😀

Malam ini kami tidak kemana-mana, hanya menghabiskan waktu di kamar dan berbelanja cemilan di supermarket depan hotel. Salah satu pertimbangan mencari hotel adalah lokasi. Dengan memilih hotel yang dekat dengan lokasi keramaian akan lebih menghemat waktu di perjalanan.

Biaya yang dikeluarkan :

  • Sewa mobil (kereta)                 rm 120 dibagi 7
  • Isi petrol                                      rm   20 dibagi 7
  • Penginapan                                 rm  150 dibagi 7
  • Nasi lemak (sarapan)               rm   2,2
  • Es teh tarik (sarapan)              rm   3
  • Langkawi Cable Car                  rm 44
  • Sky Bridge and slide                 rm 15

Malaysia Trip 2016 – Day 2 (KLIA 2 – Penang)

Hari 2

Sekitar pukul 04.30, saya memutuskan untuk mandi, bukan karena saya rajin mandi, namun karena badan mulai kedinginan karena AC di bandara sudah semakin rendah suhunya. Dengan mandi saya berharap badan saya akan lebih hangat karena aliran darahnya lebih lancar (teori entah dari mana), dan benar setelah mandi saya merasa lebih hangat. Di bandara KLIA 2 fasilitas yang ada cukup lengkap,  tersedia beberapa ruang mandi dengan shower. Pagi itu cukup banyak yang menggunakan fasilitas mandi tersebut. Subuh di Kuala Lumpur pukul 06.45, namun pukul 05.30 kami memutuskan untuk masuk ke ruang keberangkatan domestik dan mencari mushola di dalam agar tidak terlalu tergesa-gesa ketika waktu boarding tiba. Dari depan, ruang keberangkatan domestik terlihat kecil, bersamaan dengan kami ada juga rombongan atlit yang hendak melancong sehingga antrian cukup panjang. Setelah pemeriksaan barang kami menuruni tangga dan ternyata baru terlihat ruang – ruang keberangkatan yang cukup banyak. Diantaranya terdapat juga beberapa toko dimana saya membeli persediaan logistik seperti roti, kue dan air minum.

Pesawat berangkat tepat pukul 07.15 dan mendarat di Penang International Airport pukul 08.00. Dari udara terlihat kota Penang yang berada di sisi selat Malaka. Cuaca cukup panas ketika kami tiba, dan memang minggu itu Negara Malaysia tengah mengalami suhu panas sehingga beberapa daerah terpaksa meliburkan pelajarnya.

Penang All-1tim.JPG

All team minus tukang foto

Kami harus menunggu sampai jam 9 dikarenakan kantor penyewaan mobil yang kami pesan baru buka pukul 09.00 pagi. Untunglah di Penang International Airport tersedia spot yang dikhusukan untuk melakukan charge dengan layanan Wifi yang cukup kencang. Jadilah kami ber 7 menempati sebuah pojokan untuk mengisi daya alat komunikasi kami masing-masing sambil memposting status dan hasil kenarsisan.

Path_20160409124530906.jpg

Charging time

Pukul 09.00 kendaraan kami tiba. Dari bandara kami di bawa ke kantor penyewaan mobil untuk dijelaskan mengenai kendaraan yang kami sewa serta menyelesaikan proses administrasi. Kantornya berada di halaman parkir Giant Hypermart. Setelah selesai dimulailah petualangan kami. Tujuan pertama adalah mencari makan, ternyata  perut kami sudah cukup lapar. Ketika melewati wilayah George town kami mampir di  sebuah tempat makan yang menyediakan nasi lemak, ahhh ini makanan favorit saya. Di Malaysia saya jarang melihat makanan kaki lima, namun mereka memiliki semacam foodcourt yang isinya makanan kaki lima juga, sehingga jangan khawatir kelaparan di Malaysia, karena makanan di food court ini cukup terjangkau.

Setelah perut kenyang pikiran tenang hati senang, kami melanjutkan menuju tempat kami menginap untuk menyimpan barang-barang dan beristirahat sejenak. Rupanya tidur yang kurang pada malam sebelumnya ditambah dengan cuaca panas membuat kami mudah lelah. Tempat kami menginap berbentuk semacam rumah susun dengan 2 kamar. Tersedia fasilitas mesin cuci membuat tante saya berinisiatif untuk memaksa anak-anaknya mandi agar baju nya bisa dicuci. Di bawah rumah susun terdapat beberapa toko kelontong yang menjual bahan – bahan makanan, namun ketika saya menanyakan harga pisang, saya menjadi lebih menghargai tukang pisang di Indonesia yang bisa menjual dengan lebih murah.

Pemilik rumah juga membantu kami membeli kartu parkir, jadi di Penang, kartu parkir dibeli secara bebas di warung atau kios yang menyediakan, bentuknya seperti kartu dengan kotak-kotak untuk di gosok menggunakan koin bertuliskan tanggal, bulan, jam dan menit. Nanti pemilik mobil akan menggosokan kotak – kotak tanggal, bulan, jam dan menit dia memulai parkir dan kapan diperkirakan akan selesai parkir. Setelah itu kartu itu cukup di letakkan di dashboard sehingga jika ada patroli, petugas akan bisa melihat apakah mobil tersebut masih masuk dalam waktu parkir atau tidak. Kartu parkir yang membutuhkan kejujuran tingkat tinggi dari penggunanya 😀 😉 .

karcis parkir.jpeg

kartu parkir

Setelah shalat dzuhur kami melanjutkan perjalanan menuju Penang Hill. Penang Hill sendiri merupakan suatu dataran tinggi yang berada di sisi kota Penang. Jarak dari penginapan sekitar 10 km membutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju daerah bernama Air Itam. Jalanan yang luas dan sepi membuat saya membandingkan dengan kondisi jalanan Jakarta. Untuk menuju air itam selain menggunakan kendaraan pribadi pengunjung juga bisa menggunakan bis umum untuk menuju kesana. Bis berhenti tepat di bawah gedung parkir Air Itam.

Setelah mengantri membeli tiket, kami antri untuk menaiki kereta untuk menuju puncak Penang Hill atau Bukit Bendera. Kereta yang digunakan bentuknya seperti trem dengan kemiringan mencapai 45 derajat. Perjalanan menuju puncak sekitar 15-20 menit. Terdapat beberapa stasiun pemberhentian di perjalanan. Jadi yang ingin mencoba mendaki bisa turun di stasiun pemberhentian dan meneruskan dengan berjalan kaki menyusuri hutan tapi harus di temani oleh guide. Dari puncak bukit bendera kita bisa melihat kota secara keseluruhan, di puncak hill ini terdapat beberapa tempat makan, masjid, kuil, museum owl, hotel, hingga tempat mencantolkan gembok cinta. 😀

Setelah puas menikmati pemandangan dari atas, kami memutuskan untuk kembali. Kembali kami menemukan pengalaman membayar parkir yang tidak biasa, sebelum naik ke lantai tempat kami parkir, kami menuju mesin mirip dengan atm, saya cukup menempelkan karcis parkir yang kami ambil pada saat masuk untuk di scan barcodenya, setelah itu akan muncul berapa biaya parkir yang harus saya bayar, saya masukkan uang sejumlah tersebut, setelah itu akan muncul tanda terima pembayaran parkir, namun karcis parkir yang pertama jangan dibuang karena ketika akan keluar kita masih harus menempelkan karcis tersebut untuk membuka palang parkir. Sistem pembayaran parkir seperti ini sangat menghemat tenaga manusia, karena tidak perlu ada petugas yang harus menunggu di pintu keluar untuk menerima pembayaran parkir.

Tujuan selanjutnya tak lain dan tak bukan, mengisi perut yang sudah mulai berbunyi, dan ternyata bukan hanya perut saja yang memberikan sinyal, mobil juga memberikan tanda harus di isi. Di SPBU Malaysia tidak ada petugas yang melayani, semua self service. Saya menuju loket yang tersedia, memberitahukan kepada petugas berapa bahan bakar yang ingin saya beli dan di pompa mana kemudian membayarnya. Setelah itu bensin akan keluar dari pompa tersebut senilai yang telah saya bayarkan.

dsc_0554

petugas SPBU impor

Tak jauh dari SPBU kami menemukan sebuah tempat makan di pojokan jalan yang sepertinya menarik. Sore itu kami makan dengan menu tomyam, ikan bakar, cumi, udang, telur dadar dan tak lupa meminta tambahan kerupuk hahaha.

dsc_0559

makan MEVVAH hahaha

Setelah makan kami menuju masjid terapung Penang, sebenarnya masjid ini tidak benar terapung namun berada di pinggir pantai yang ketika pasang akan menggenangi area masjid sehingga terlihat seperti terapung. Tapi sayang ketika kami datang pantainya lagi surut sehingga tak terlihat terapung. Semula kami niat untuk shalat magrib disana, namun di Malaysia, untuk bisa memasuki masjid, jamaah harus berpakaian yang menutupi aurat. Perempuan pun walaupun menggunakan kerudung tapi kalau menggunakan celana panjang dan kaus yang agak pendek tidak diperbolehkan masuk. Mereka menyediakan semacam jubah kalau tetap mau masuk. Saudara sepupu dan swami  saya hari itu menggunakan celana pendek sehingga tidak diperbolehkan masuk, akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke penginapan.

dsc_0567

Masjid Terapung yang tengah tak terapung

Malamnya kami sempat berjalan-jalan di sekitar penginapan untuk melihat-lihat situasi kota. Namun sayang mall dan toko-toko tutup pada pukul 9 malam, sehingga kami hanya sempat melihat sebentar untuk kemudian mampir minum es teh tarik di food court kaki lima sebelum kembali ke penginapan.

Biaya yang dikeluarkan :

  • Sewa mobil (kereta)         rm 180 dibagi 7
  • Isi petrol                              rm   20 dibagi 7
  • Penginapan                        rm  130 dibagi 7
  • Nasi lemak (sarapan)      rm   1,8
  • Es teh tarik (sarapan)     rm   3
  • Tomyam                              rm   77 dibagi 7
  • Es teh tarik (malam)       rm  2,5
  • Tiket Penang Hill              rm  30

Malaysia Trip 2016 – Day 1 (CGK – KLIA2)

Hari  1

Pesawat kami akan lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 20.30 jadi kami harus ada di bandara sekitar pukul 19.00. Karena kami akan berangkat dari terminal 3 yang relative lebih sepi maka saya agak santai mengatur waktu ketibaan di bandara, ditambah dengan sudah melakukan pencetakan boarding pass. Akan berbeda jika keberangkatan saya lakukan dari terminal 2, antriannya biasanya akan memakan waktu lebih lama.

Kondisi jalanan sore itu tidak bersahabat, terutama di dalam area Bandara Soekarno Hatta itu sendiri. Saya membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa menembus kemacetan mulai dari membayar tol bandara hingga tiba di Terminal 3, padahal biasanya hanya membutuhkan waktu 10 menit. Yang pertama kali tiba di bandara adalah swami saya sekitar pukul 17.45, disusul oleh saya 10 menit berikutnya dan kedua orang teman saya 25 menit setelahnya. Saya membawa bekal ayam cepat saji untuk bisa kami nikmati sambil menunggu waktu keberangkatan. Jadilah kami ber empat duduk di pojokan untuk menikmati makan malam.

isi-perut-duyu

calon wisatawan lapar

 

Pesawat berangkat tepat waktu dan mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2 menjelang tengah malam. Selama 2 jam perjalanan saya habiskan dengan tidur nyenyak. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi kami tiba di toko duty free yang menjual rokok, parfum dan minuman beralkohol. Kami mencari kursi untuk menunggu kedatangan tante dan kedua sepupu saya yang di perkirakan akan mendarat setengah jam setelah kedatangan kami. Rupanya Surabaya diguyur hujan sehingga keberangkatan pesawat tante saya di delay. Untuk memudahkan melihat, saya memutuskan berkeliling di duty free yang memang dekat dengan pintu keluar setelah imigrasi. Lumayan bisa mencoba parfum-parfum yang dipajang, namun saya diawasi secara ketat oleh petugas keamanan ketika saya mengamati botol-botol minuman beralkohol yang memang unik bentuknya. Terdapat peraturan tertempel di dinding bahwa minuman beralkohol tidak diperkenankan di jual kepada penganut agama muslim. Saya belum tahu kalau di luar toko duty free, tapi rasanya peraturan itu juga berlaku di seluruh negara Malaysia.

Setelah menunggu sekitar 1 jam akhirnya rombongan kami komplit. Keluar dari duty free, kami mulai mencari pojokan atau lapak untuk beristirahat. Kami memang memutuskan untuk bermalam di airport karena pesawat berikutnya akan berangkat pukul 07.15 pagi. Jadilah malam itu kami bergabung bersama dengan para pelancong lainnya yang tidur beralaskan kardus dan berbantalkan ransel. Pasti itu merupakan pengalaman pertama yang tak terlupakan oleh tante dan sepupu saya 😀 😀 😀

Biaya yang dikeluarkan :

  • Uber dari Cikini ke Bandara Soetta – idr 110.000
  • Paket rame-rame Mc Donalds – idr 100.000

Malaysia Trip 2016 – Preparation

Beberapa bulan yang lalu, saya, swami dan beberapa teman dan kerabat melakukan perjalanan ke Malaysia. Bulan April tepatnya, hanya karena kesibukan (baca kemalasan) saya sehingga tulisan ini baru sempat saya  posting sekarang :D. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya 🙂

Negara Malaysia menjadi suatu tempat tujuan yang paling sering saya datangi, hanya 1 alasan, karena tiketnya murah, saya sangat suka nasi lemak dan saya amat sangat menyukai es teh tarik. Awal bulan ini saya kembali mengunjungi Negara tetangga tersebut, dengan tujuan akhir adalah kota Penang dan Langkawi. Tiket sudah dibeli dari jauh hari dengan rute Jakarta – Kuala Lumpur – Penang dan Kuala Lumpur – Jakarta untuk 2 orang, saya dan swami. Untuk kembali ke Kuala Lumpur dari Penang masih menunggu jadwal pembelian tiket kereta malam.

 

H – 3 Bulan

3 bulan merupakan waktu yang saya tetapkan untuk melakukan finalisasi terhadap rute perjalanan liburan saya. Setiap akan melakukan perjalanan yang sudah di rencanakan saya menetapkan 3 bulan sebelumnya harus sudah final mulai dari itinerary, akomodasi, hingga biaya yang harus disiapkan. Tidak ada angka baku, hanya saja 3 bulan saya anggap waktu yang cukup untuk mengumpulkan uang (menabung) untuk keperluan perjalanan saya. Selain itu yang harus disiapkan adalah permohonan cuti ke kantor, biasanya sih secara lisan dulu hihihi.

Di awal tahun atau 3 bulan sebelum keberangkatan saya ke Penang saya mencoba mencari rute lain yang bisa saya kunjungi tanpa harus menambah nilai nominal yang berarti, sehingga rute perjalanan saya menjadi Jakarta – Kuala Lumpur – Penang – Langkawi – Kuala Lumpur – Jakarta yang menghabiskan waktu 5 hari 5 malam 5 kali naik pesawat :D. Total biaya tiket yang saya habiskan sekitar 2 ,1 juta berdua.

Melihat rute dan harga yang menggiurkan, 2 orang teman saya terprovokasi untuk ikut bersama kami. Sehingga jumlah tim kami menjadi 4 orang. Itinerary sudah disusun, akomodasi sudah dipesan, hanya masalah transportasi, karena di Langkawi tidak ada angkutan umum, untuk menyewa mobil, tidak ada satupun dari kami ber 4 yang bisa mengendarai mobil.

H – 1 Bulan

Pagi itu tante saya tetiba menghubungi saya dan meminta dicarikan tiket ke Batam, rupanya beliau berencana untuk pergi ke Singapore bersama seorang anaknya. Untuk langsung pergi ke Singapore beliau tidak berani karena belum pernah pergi ke luar negeri, ini akan jadi pengalaman pertamanya. Langsung saja saya sodori tawaran rute perjalanan saya. Om saya sangat menyarankan agar istri dan anaknya ikut saya saja agar ada temannya, akhirnya tante saya dan 2 anaknya ikut dalam rombongan kami.  Mereka berangkat dari Surabaya sehingga kami akan bertemu di Airport Kuala Lumpur. Masalah transportasi di Langkawi terpecahkan, karena tante dan sepupu saya bisa menyetir :D. Setelah menambah akomodasi yang diperlukan dan melakukan perhitungan ulang terhadap itinerary dan  biaya perjalanan, kami siap untuk berangkat.

H – 1 minggu

Melakukan check in pesawat, melakukan penukaran mata uang asing, menyiapkan surat cuti, serta memulai packing barang yang akan dibawa.

 

[kewajiban] memasak

Katanya, salah satu kewajiban seorang istri adalah memasak bagi suami dan keluarganya. Sehingga dulu ada semacam ungkapan di wilayah tempat tinggal saya, kalau anak gadis bcelemek minnieelum bisa menggoreng bawang dengan bagus, maka belum pantas untuk menikah. Ketika itu saya masuk kategori  yang belum pantas untuk menikah 🙂 . Namun dalam sebuah kajian di masjid yang saya hadiri,  penceramah mengatakan kewajiban suami adalah memberikan makan bagi istri dan anak-anaknya hingga sampai menyuapi mereka, jadi kewajiban memasak bukan pada istri. Sampai situ saya sudah tersenyum bahagia, tapi penceramah meneruskan lagi ucapannya, “hanya saja itu kembali lagi kepada istrinya sendiri, kalau ingin membahagiakan suaminya akan lebih baik jika menyediakan makanan yang disukai sang suami sehingga suami tidak berpaling kepada dapur yang lain”. Ok penjelasan itu bisa saya terima.

Saya bukannya tidak suka memasak, saya suka memasak. Bahkan dari SMP saya sudah mencoba-coba berbagai macam resep, terutama resep kue-kue. Sponsor utama saya adalah papah, beliau akan membelikan bahan-bahan apa saja yang saya butuhkan untuk mencoba sebuah resep, dan keluarga saya akan sukarela mencicipi hasil uji coba tersebut. Terkadang gagal namun lebih banyak berhasilnya walau mungkin tampilannya tidak semanis seharusnya. Setelah menikah lebih banyak lagi percobaan resep yang saya buat, mulai dari pudding puyo,  roti maryam, mie wortel, singkong Thailand, air tahu jahe, dan banyak lagi,  kelinci percobaannya tentu saja suami saya :D.

Tapi saya orangnya moody, jadi kalau mood saya baik, saya akan rela menghabiskan waktu seharian di dapur untuk masak, sebaliknya kalau mood saya lagi tidak ke arah sana, membuat mie instant saja saya malas. Setelah menikah sifat moody itu terus ada, hanya saja sudah lebih di kompromikan. Misal saya lagi tidak mood memasak sementara kondisi tidak memungkinkan untuk membeli makanan di luar, maka saya harus bisa bereksperimen menggunakan bahan makanan yang saya miliki untuk menjadi sebuah makanan layak makan bagi suami saya. Sehingga saya selalu menyimpan jagung, bakso, telur, pasta dan kornet dalam kulkas saya. Karena kehadiran mereka memudahkan hidup saya. Lagi malas masak, cukup membuat bakwan jagung atau menumis jagung dengan bakso. Lagi hujan dan malas masak, cukup membuat sup jagung bakso. Nasi habis dan tidak cukup waktu untuk memasak, cukup membuat pasta ala-ala dengan kornet. Lagi sangat malas memasak, cukup mengaduk ngaduk telur bakso dan nasi menjadi nasi campur.

Alhamdulillah suami saya bukan orang yang rewel dengan makanan, Ia akan menyantap apa saja yang saya hidangkan. Jadi kata siapa kalau tidak bisa menggoreng bawang dengan bagus maka belum pantas menikah, karena hingga saat ini pun saya belum bisa meghasilkan bawang goreng yang renyah dan berwarna coklat muda bersih :p

(premiere) Sabtu Bersama Bapak [late post]

 

WhatsApp-Image-20160701Memenuhi janji saya untuk memberikan review atas premiere film kedua yang saya hadiri, meski terlambat dikarenakan liburan lebaran, berikut adalah hasili review terhadap premiere film Sabu Bersama Bapak yang saya hadiri pada 1 Juli lalu. Film berjudul Sabtu Bersama Bapak yang diangkat dari novel Adhitya Mulya. Novel ini merupakan salah satu novel favorit saya, biasanya novel favorit ditandai dengan kertas yang lecek atau sedikit bernoda noda karena ketika membacanya ketetesan minuman dsb.  Novel itu sendiri bercerita mengenai sebuah keluarga yang ditinggalkan ayah mereka akibat sakit. Namun sang ayah masih berusaha untuk tetap hadir di setiap kehidupan anak-anaknya melalui rekaman video yang diputar setiap sabtu dan ketika anak-anaknya membutuhkan kehadiran sang ayah.  Dengan rekaman-rekaman itulah sang anak tumbuh dewasa dengan di ‘dampingi’ oleh Bapak.

Kenapa novel ini menjadi salah satu novel favorit saya, mungkin karena ceritanya menyentuh dan tak biasa, atau karena ceritanya mengalir begitu saja, atau karena kepiawaian penulis yang seperti biasa memadukan antara komedi dan romantis dengan apik nya atau ya karena saya suka saja tanpa alasan yang berarti. Yang saya suka dari membaca adalah saya bisa membebaskan pikiran saya untuk berkhayal dan membayangkan adegan demi adegan dari buku yang saya baca. Itu sebabnya ketika saya menonton film yang diangkat dari sebuah buku saya tidak terlalu berharap banyak akan sesuai dengan buku, soalnya lebih banyak kecewanya dibanding senangnya. Mungkin daya khayal saya yang terlalu fantastis dibandingkan dengan yang bisa diberikan oleh sebuah film hahaha. Tapi pengalaman saya menonton film yang diangkat dari buku karya pasangan Adhitya Mulya dan Ninit Yunita jarang membuat saya kecewa, dimulai dari film Jomblo yang mengenalkan saya pada gantengnya Christian Sugiono dan film test pack hasil karya Ninit Yunita. Begitu juga yang saya harapkan dari film Sabtu Bersama Bapak ini. Hasilnya adalah saya GAGAL MOVE ON!. Hingga hari ini rasanya film ini sangat membekas di ingatan saya. Memang terdapat beberapa perbedaan antara buku dan film namun secara garis besar tidak merubah isi cerita, bahkan bisa lebih memperkaya dan memberikan gambaran yang jelas akan konflik yang terjadi yang tidak bisa digambarkan dalam tulisan di buku. Saya memberikan 4 jempol saya untuk film ini. Perpaduan antara Deva yang bisa memerankan Cakra yang sebenarnya ganteng tapi pemalu, ditambah dengan luwesnya Acha dalam memerankan Rissa sebagai ibu dan istri  yang harus LDR dengan suami, dan tak lupa Ira Wibowo yang bisa menggambarkan sosok bu Itje yang harus bisa menyimpan rahasia nya agar anak-anak nya tidak khawatir. Saya juga mengacungkan jempol kepada make up artist yang bisa membuat Ira Wibowo dan Abimana terlihat seumuran hehehe. Review atas filmnya? ah nonton saja sendiri agar bisa merasakan apa yang saya rasakan.

ps. Dari sebuah sumber didapat info ternyata dibalik suksesnya film ini, sang penulis meminta secara khusus agar jika novel ini ingin di filmkan, harus melibatkan Monty Tiwa sebagai sutradara dan Acha Septriasa sebagai salah seorang pemain. It works!!!

Premiere Film

WhatsApp-Image-20160630Sebagai anak nonton, saya sangat berkeinginan bisa mengikuti premiere sebuah film. Selain bisa menonton lebih awal, saya juga tertarik dengan goodie bag yang biasa nya di tenteng oleh para penonton premiere film.  Beberapa waktu lalu ketika tengah berselancar di dunia maya saya menemukan semacam broadcast yang menyatakan jika saya membeli buku akan mendapatkan tiket premiere film dengan judul yang sama. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya memutuskan untuk membeli 2 buah buku agar saya bisa mengajak suami saya menonton film tersebut.

Mengingat suami saya yang agak anti dengan film Indonesia, saya mengatakan dari awal agar nikmati saja pemandangan yang disajikan di film tersebut. H-7 saya sudah menamatkan membaca buku tersebut, tak sabar ingin melihat bagaimanakah cerita dari buku tersebut di visualisasikan.  Hari H saya tiba disana setelah shalat magrib dan langsung menuju loket untuk menukarkan tiket dari buku dengan tiket bioskop. Karena masih ada waktu sekitar 2,5 jam saya dan suami memutuskan untuk makan dulu. Setelah makan dan shalat Isya, kami kembali ke bioskop yang sudah dipenuhi oleh para calon penonton premier. Sangat penuh, penonton terdiri dari berbagai kalangan, saya melihat ada rombongan ibu-ibu dengan baju gamis dan hijab lebar, ada pula rombongan remaja hijaber, tak sedikit pula penonton remaja tanggung.

Dari hasil pembicaraan dengan petugas penjaga tiket, malam itu seluruh studio di bioskop itu akan  memutar premier film tersebut. Sehingga diperkirakan ada 2000 penonton yang akan mengikuti premiere film malam itu. Rasanya tidak seperti premiere film yang saya bayangkan selama ini. Saya selalu membayangkan kalau premiere film itu berlangsung eksklusif, terbatas, dan adanya interaksi yang nyaman antara pengisi film dengan para penonton yang hadir. Selain itu 1 hal yang menbuat saya sedikit kecewa, cerita antara di Film dengan di buku sangat berbeda, tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. Review terhadap film tersebut bisa dilihat di sini. Saya masih punya tiket premiere film 1 lagi di akhir minggu ini ,well kita lihat apakah akan sama dengan pengalaman pertama saya atau tidak.